Friday, 25 December 2015

Gaya Dipol-Dipol dan Ion-Dipol

1.      Gaya Dipol-Dipol
               Gaya dipol-dipol (dipole-dipole forces) merupakan gaya yang bekerja antara molekul-molekul polar, yaitu antara molekul-molekul yang memiliki momen dipol. Asal gaya ini adalah gaya elektrostatik. Makin besar momen dipolnya, makin kuat gayanya. Gambar 11.1 menunjukkan orientasi molekul polar dalam suatu padatan. Dalam cairan, molekul-molekul tidak terikat sekaku seperti pada padatan, tetapi molekul-molekul cenderung tersusun sedemikian rupa sehingga, secara rata-rata, interaksi tarik-menarik pada keadaan maksimum.

2.   Gaya Ion-Dipol
Interaksi elektrostatik juga menjelaskan gaya ion-dipol (ion-dipole forces) yang terjadi antara suatu ion (bisa kation atau anion) dengan suatu molekul polar (Gambar 11.2). Kekuatan interaksi ini bergantung pada muatan dan ukuran ion dan pada besarnya momen dipol dan ukuran molekul. Muatan kation umumnya lebih terpusat, karena kation biasanya lebih kecil daripada anion. Jadi, untuk muatan yang sama, kation berinteraksi lebih kuat daripada anion. 


          Hidrasi adalah salah satu contoh interaksi ion-dipol. Dalam larutan NaCl dalam air, ion-ion Na+ dan Cl- dikelilingi oleh molekul air, yang memiliki momen dipol yang besar (1,87 D). Bila senyawa ionik seperti NaCl dilarutkan molekul-molekul air bertindak sebagai isolator listrik yang mempertahankan ion-ion saling berjauhan. Di sisi lain, karbon tetraklorida (CCl4) adalah molekul nonpolar, dan karena itu tidak memiliki kemampuan untuk terlibat dalam interaksi ion-dipol. Yang kita temukan dalam prakteknya adalah bahwa karbon tetraklorida merupakan pelarut yang buruk untuk senyawa ionik, seperti kebanyakan cairan nonpolar lainnya.



             Demonstrasi tarik-menarik ion-dipol yang meyakinkan. Air dalam buret dialirkan ke dalam gelas kimia. Jika batang yang bermuatan negatif  (misalnya, batang ebonit yang digosokkan ke rambut)  didekatkan pada aliran air, air akan dibelokkan menuju batang tersebut. Bila batang ebonit diganti oleh batang yang bermuatan positif (misalnya, batang gelas yang digosok dengan sutra), air juga tertarik ke batang. Dengan batang ebonit, molekul-molekul air mengorientasikan dirinya sendiri sedemikian rupa sehingga ujung positif dipol mengarah ke batang dan tertarik ke muatan batang dan tertarik ke muatan negatif batang. Bila batang ebonit digantikan dengan batang kaca, ujung negatif dipol akan terorientasi menuju batang. Penyimpangan yang serupa teramati untuk cairan polar yang lain. Bila cairan nonpolar seperti heksana (C6H14) digunakan untuk menggantikan air maka tidak terjadi pembelokan.



Referensi: Raymond Chang


Baca juga:

No comments:

Post a Comment