Friday, 25 December 2015

Gaya Antarmolekul

Gaya tarik di antara molekul-molekul, disebut gaya antarmolekul (intermolecular forces), menyebabkan perilaku gas nonideal. Gaya ini juga menentukan keberadaan materi terkondensasi-cairan dan padatan. Ketika suhu gas turun, energi kinetik rata-rata molekulnya turun. Akhirnya, pada suhu yang cukup rendah, molekul-molekul itu tidak lagi memiliki cukup energi untuk memisahkan diri dari tarikan molekul lainnya. Pada titik ini, molekul-molekul mengelompok untuk membentuk tetes-tetes cairan yang kecil. Fenomena perubahan dari wujud gas menjadi cair dikenal sebagai pengembunan.

Berbeda dengan gaya antarmolekul, gaya intramolekul (intramolecular forces) mengikat atom-atom dalam molekul. Gaya intramolekul menstabilkan molekul masing-masing, sedangkan gaya antarmolekul terutama menyebabkan sifat-sifat materi dalam jumlah besar (misalnya, titik leleh dan titik didih).
Umumnya, gaya antarmolekul jauh lebih lemah daripada gaya intramolekul. Jadi, biasanya diperlukan energi yang jauh lebih kecil untuk menguapkan cairan daripada untuk memutuskan ikatan dalam molekul cairan. Misalnya diperlukan sekitar 41 kJ energi untuk menguapkan 1 mol air pada titik didihnya; diperlukan 930 kJ energi untuk memutuskan dua ikatan O-H dalam 1 mol molekul air. Titik didih zat seringkali mencerminkan kekuatan gaya antarmolekul yang bekerja di antara molekul-molekul. Pada titik didih, energi yang cukup harus diberikan untuk mengatasi tarik-menarik antarmolekul untuk dapat memasuki fasa uap. Jika diperlukan energi yang lebih banyak untuk memisahkan molekul-molekul dalam zat A daripada dalam zat B karena molekul-molekul A terikat bersama dengan gaya antarmolekul yang lebih kuat daripada molekul-molekul B, maka titik didih A lebih tinggi daripada titik didih B. Asas yang sama juga dapat diterapkan untuk titik leleh zat. Secara umum titik leleh zat naik dengan mengikatnya kekuatan gaya antarmolekul.
Untuk memahami sifat-sifat materi terkondensasi, kita harus memahami berbagai jenis gaya antarmolekul. Gaya dipol-dipol, gaya dipol-dipol terinduksi, dan gaya dispersi tercakup dalam gaya yang sering disebut kimiawan sebagai gaya van der Waals. Ion dan dipol saling tarik-menarik dengan gaya elektrostatik yang disebut gaya ion-dipol; gaya ini bukanlah gaya van der Waals. Ikatan hidrogen merupakan interaksi dipol-dipol yang cukup kuat. Karena hanya sedikit unsur yang dapat terlibat dalam pembentukan ikatan hidrogen, gaya ini dimasukkan dalam kelompok terpisah. Bergantung pada wujud fisik zat (yaitu, gas, cair atau padat), sifat ikatan kimia, dan jenis-jenis unsur yang ada, lebih dari satu jenis interaksi yang mungkin menyumbang pada gaya tarik-menarik total antara molekul.



Referensi: Raymond Chang

No comments:

Post a Comment